Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menilai investasi di hulu migas tak begitu terpengaruh dengan volatilitas harga minyak dunia dalam jangka pendek, sebab investasi yang dilakukan memakan waktu cukup panjang hingga akhirnya bisa mendapat keuntungan.
Untuk itu, Aspermigas menekankan salah satu aspek terpenting dalam berinvestasi di hulu migas adalah stabilitas kebijakan.
Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal mengungkapkan ketika harga minyak mentah global meningkat, maka perusahaan hulu migas yang telah melakukan produksi dapat mendapatkan pendapatan ekstra atau windfall profit.
Kendati demikian, keuntungan yang didapatkan tersebut bakal diinvestasikan kembali untuk mendanai proses eksplorasi hingga peningkatan produksi.
Dalam hal ini, kegiatan bisnis tersebut perlu didukung dengan stabilitas kebijakan yang diambil pemerintah.
“Windfall profit itu akan mereka manfaatkan untuk investasi lagi, tetapi investasi ya tetep mereka akan berhati-hati. Jadi intinya sifatnya jangka panjang ya, dan kenaikan ini akan masih dilihat ke depan. Ini akan stabil apa enggak. Ya, perdamaian ini permanen apa enggak ya,” kata Moshe ketika dihubungi, Jumat (19/6/2026).
Tidak hanya kebijakan di sektor migas, Moshe menyatakan kebijakan pemerintah yang secara umum berdampak bagi dunia usaha bakal berimbas terhadap investasi di hulu migas.
Dia mencontohkan, saat ini sektor hulu migas memang dikecualikan dari kebijakan penyimpanan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA), tetapi kondisi tersebut bisa saja berubah jika tiba-tiba pemerintah membutuhkan pendapatan lebih.
“Iya sekarang, tetapi bisa saja tahun depan berubah gitu kan. Jadi kita jadi khawatir. Misalkan kalau ekonomi Indonesia makin buruk, bisa saja migas juga kena juga,” tegas dia.
“Jadi jangan pernah kita bersangka kalau kebijakan di satu sektor itu tidak berpengaruh ke sektor lain. Akan berpengaruh sentimennya ke sektor lain,” lanjtunya.
Moshe juga menegaskan investor umumnya menilai iklim investasi suatu negara berdasarkan kebijakan yang diputuskan, bukan informasi yang disampaikan oleh pemerintah.
Dengan demikian, setiap kebijakan yang diputuskan di sektor lainnya juga bakal menjadi sentimen bagi investor untuk menentukan keputusan investasinya.
“[Hal] yang kita lihat sekarang kan kadang-kadang kebijakan-kebijakan yang tidak didiskusikan dahulu oleh industri. Nah keluarnya seperti itu, akhirnya bergejolak. Itu seharusnya pemerintah bisa sadar dan berubah seperti yang kita harapkan,” ujarnya.
Harga minyak mentah dunia bergerak melemah seiring langkah para pelaku pasar menganalisis dampak dari pakta perdamaian sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan laporan televisi negara Republik Islam tersebut serta seorang pejabat AS, dokumen kesepakatan itu kini telah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.
Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali aliran jutaan barel minyak dari Timur Tengah seiring dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah berakhirnya blokade ganda.
Harga minyak mentah acuan dunia, Brent, untuk pengiriman Agustus naik 0,8% menjadi US$80,48/barel pada pukul 14.13 di Singapura hari ini. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 1,7% menjadi US$77,90/barel. Kontrak WTI Agustus yang lebih aktif naik 1% menjadi US$76,61/barel.
Adapun, lifting minyak mentah pada tahun ini ditargetkan sebanyak 610.000 barel per hari (bph). Sementara itu, lifting gas bumi dibidik sejumlah 984.000 l setara minyak per hari (boepd).